Feeds:
Posts
Comments

Cinta Suci

Jackstar Hamzah Shirazi (“Sapanya Jackstar Harry, tuh?” tanya AK) pernah berkata:

Cinta
adalah anugerah suci yang diturunkan
Yang Maha Suci ke dunia ini.
Oleh karena itu,
cinta sudah semestinya
kita dekati dengan kesucian.

Dua Bunga Indah

Dua Bunga

Kesucian itu diwujudkan dengan hati dan perilaku. Sabar dan ikhlas adalah contoh hati yang suci itu, yang kemudian akan menuntun kita pada perilaku yang suci. Setelah itu, yuk mari kita bernyanyi (“Hallahh…,” komen AK):

… hidup yang sedang berjalan
terasa ringan berjalan
karena kau menguatkan, menyucikan…. (Cinta Bertahan, Acha Septriasa)

Saudara tahu apa itu perbedaan cemburu dan sakit hati? (“Ndaaaaak,” kata AK) Itu adalah dua macam perasaan yang biasa hadir menemani para pasangan cinta. Tapi, tentu dua perasaan itu memiliki arti berbeda. Begini:

Cemburu, yang kabarnya bumbu dari tali cinta, adalah perasaan takut kehilangan orang yang kita sayangi. Ketika perasaan itu ditenangkan, tentu oleh sang kekasih, maka akhirnya malah akan makin memperkuat tali cinta antara keduanya.

Permen lope patah

Permen lope patah

(“Lantas, sakit hati apa?” kata AK, lagi) nah, kalau sakit hati adalah perasaan yang berimplikasi untuk segera saja meninggalkan sang kekasih! (“Busyeet….,” AK said) Lha iya, tho? Cinta kok bikin sakit hati. Hohoho….

Bicara soal penyebab, tentu saja kedua perasaan itu muncul bukan tanpa sebab. Nah, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana membedakan penyebab perasaan cemburu dan sakit hati. Maksudnya, dampak dari penyebab itu seharusnya cukup dengan cemburu, tapi malah sakit hati. Atau sebaliknya. Dan perkara membedakannya tidaklah mudah. Sungguh tidak mudah.

Pesan Gandalf

Aku sudah peroleh kabar sejak dulu bahwa film Lord of The Ring itu bagus. Tapi, baru beberapa bulan yang lalu aku nonton film ini.

Gandalf

Gandalf

Saking senengnya nonton film ini, 3 seri LOTR aku selesaikan cepat sekali. Bahkan sempet sampe gak ngapel segala! (“Emangnya ada yang diapelin???” AK) Hohoho…. Btw, aku sempet mencatat salah satu dialog Frodo dan Gandaft. Dialog ini terjadi saat mereka mengitari gunung es untuk menghindari musuh. Pada saat itu Frodo sudah mulai patah semangat:

Frodo      : I wish the Ring had never come to me. I wish none of this had happened.
Gandalf   : So do all who live to see such times. But that is not for them to decide.
All we have to decide is what to do with the time that is given to us

Heran. Iya, beneran heran saya. Kok, sekarang jadi jarang bikin puisi. Aku pernah tanyakan keherananku ini pada pada kakakku yang Psikolog itu. “Kamu udah mulai membumi, udah gak aneh lagi, Har. Emang keliatan, kok, sekarang.”  Kata kakaku.

Apa iya, ya? Perasaan aku tetep aneh, kok. Oya, mungkin kadar keanehanku yang sudah berkurang. Dia bilang aku udah gak aneh lagi mungkin untuk memberi semangat moral (atau mental, ya?) supaya aku benar-benar tidak aneh. Oleh karena itu pula dia bilang aku sudah membumi.

Tadi itu hipotesa pertama. Nah, yang kedua sekarang: mungkin aku dibilang membumi dan tidak aneh lagi karena sekarang kadar keanehanku sama dengan kadar keanehan dia. Hohoho…. Bisa jadi, lho! Kalau dari liat film-film, baca-baca buku and dengar-dengar radio, Psikolog itu banyak yang aneh. Nah, ya, tadi itu, mungkin karena dulu kadar keanehanku berbeda dengan dia maka aku dibilang aneh. Jadi, karena sekarang aku sudah memiliki kadar keanehan yang samadengan kadar keanehan kakakku yang Psikolog itu maka aku dikatakan membumi, tidak aneh lagi.

Ngomong-ngomong, “membumi” itu apa sih? Aneh.

Pesan Bung Karno

Barusan saja saya mengomentari sebuah posting di suatu milis. Tampaknya dia, si pengirim, terkesan sekali dengan ucapan/ pesan Bung Karno berikut:

“Jika seorang anak muda usia 21-22 tahun tidak punya cita-cita untuk mengubah bangsanya, gunduli saja kepalanya!”

Bung Karno

Bung Karno

Ini kalimat yang sangat dalam maknanya, bukan karena diucapkan oleh seorang Bung Karno, tapi memang begitu menurut saya. Nah, tampaknya yang terpesona bukan saja si pengirim, tapi saya juga terpesona sekarang. Oiya, sekali lagi, “terPESOna” bukan “terSEPOna”. Yang terakhir adalah jokes jadul. Hohoho… hops!

Oiya, saya belum menjelaskan apa tujuan dia mengirim potongan pesan Bung Karno itu. Dia bertujuan untuk . . . . . untuk . . . . . memperoler tanggapan dari para perserta milis lainnya (“Ya, iyyyalaaah!” katanya si AK). Maksudnya, dia berharap para peserta milis memberikan petunjuk (“‘Petunjuk’ ?! Istilah jadul, ya?” kata AK), ya, petunjuk atau komentar terhadap pesan Bung Karno itu. Dan ini komentar saya (setelah diedit dan disensor sana-sini):

Pendekar WS,
mari kita awali dulu dengan melatih jurus memahami kumpulan kata dari pesan Bung Karno tersebut. Njengan sekarang harus memulai memantapkan terlebih dahulu makna atas, setidaknya, tiga kata/ kumpulan-kata berikut:

- cita-cita
- bangsa
- gunduli saja kepalanya

Hal ini penting karena apapun yang Pendekar WS pahami dari pesan Bung Karno itu akan berdampak langsung pada jalan kehidupan yang kelak Pendekar WS jalani. Jangan terburu-buru menganggap makna pesan Bung Karno itu adalah makna tunggal, yaitu makna yang sekarang Pendekar WS pahami.

Mari kita bahas satu per satu: Continue Reading »

Nastar

Nastar. Biasaya aku makan nastar kalo Lebaran aja. Nastar bikinan ibu paling nikmat! Tapi, biasanya kami dapat kiriman kue juga, dan biasanya ada nastarnya: nikmat juga! Hohoho….

(Di tempat ini mestinya ada foto nastar nikmat itu. Kan jadi tampak menarik. Hohoho….)

Nah, hari ini rupanya Kordas NP gak tahan untuk buka kue nastar yang dia beli beberapa hari yang lalu, yang, alhamdulillah, selamat dari tikus dan semut. Hohoho…. Nah, seperti biasa, karena kami adalah tim yang kompak, damai, aman, nikmat dan sejahtera, jadi aku dan kawan-kawan ikut menikmati kue nastar yang barusan resmi dibuka bungkusnya oleh Kordas NP. Nyam-nyam… (“Aku mauuuuuuuu!” AK).

Tiba-tiba aku ingat obrolan kami, aku dan bule yang sedang TA (Tugas Akhir) di Lapan, beberapa tahun lalu. Begini ceritanya (“Halllah halllaaaaah!” AK).

Awalnya kami nonton tipi saja, ada film action gitu, deh. Lantas, aku memulai pembicaraan, “Di Indonesia kita tidak akan banyak menemukan tayangan adegan ciuman. Ada, sih. Tapi, di-cut.” Rupanya dia heran sambil rada merengut, “Ciuman gitu aja gak boleh tayang??”

“Ciuman kan bukan kekerasan. Itu bagian dari cinta,” lanjutnya. Hohoho…. “Ini aneh. Adegan tembak-menembak, pengeboman dan duel yang dapat mengundang aksi kekerasan malah tidak disensor,” katanya lagi. Ya, pada saat itu masih hangat-hangatnya kasus Bom Bali, terorisme dan lain-lain. “Lantas, apa alasan ciuman disensor?” baru, deh, dia tanya. Aku bilang apa, ya, waktu itu. Hohoho….

Oiya, aku bilang kurang lebih gini, “Menurut saya karena alasan agama dan adat di Indonesia. Apa lagi, ya?” (“Nah, lho!” AK). Aku bilang begini juga, “Secara tidak langsung, ciuman juga dapat berdampak pada kekerasan. Perkosaan, misalnya.” Eh, rupanya dia masih heran juga, “Tapi, itu kan cuma ciuman. Ekspresi cinta.” Lha, benten Prancis sareng Nusantara, kang (“Serius Lo bilang kalimat yang terakhir ini ke dia??” AK). Kalimat terakhir tadi, sih, gak dibilangin ke dia, tapi cuma pingin aja nulis komentar itu di sini (“Wooo….” AK). Hohoho….

Cerita di atas itu, cerita beberapa tahun yang lalu. Lantas, bagaimana keadaan acara-acara tipi sekarang? Wow! Para pemirsa dibombardir (adegan) ciuman! (“Uhuuuy!” AK). Jadi tambah repot ngurus anak, nih! (“Kayak udah kawin ajah!” AK). Hohoho….

Nico Cantik

Begini ceritanya. Semalem aku nonton film The Photograph. Itu, loh, film yang menang di festival anu. Tunggu, tak browsing dulu (“Payah ni orang!” AK). Nah, jadi, The Photograph baru-baru ini menang di Festival Film Karlovy Vary di Ceko. Hebat, ya!

Nico Cantik

Nico Cantik

Continue Reading »

Boga dan Pendi

Kalau kebetulan anda main ke ITB, coba, deh, berkunjung ke Labdas (Laboratorium Dasar) Teknik Elektro.

Pertama kali anda masuk pintu Lab, pertamakali anda akan melihat Kordas (Koordinator Asisten) ganteng dengan laptop Vaio warna putih. Tapi, tulisan ini bukan tentang Kordas ganteng atau laptop putih itu.

Boga dan Pendi Bercengkrama

Boga dan Pendi Bercengkrama

Continue Reading »

Apa sih “Sekte Cinta”? Gak tau. Hohoho….

Gini ceritanya. Serius, nih. Dulu (“Lagi-lagi ‘dulu’,” AK), aku suka ikut pengajian yang kyainya mengkalim dirinya “non-sektarian”. Bagaimana isinya? Bagus. Aku juga telah membuktikan sendiri bahwa kekhawatiran atau stigma buruk dari orang lain terhadap sang kyai ternyata tidak benar. Tapi, sudahlah kita akhiri pembicaraan kita tentang sang kyai itu (“May God bless him,” AK).

Nah, kembali ke soal non-sektarian. Lha, wong ternyata ada yang tidak setuju dengan faham non-sektarian itu, tapi mereka meyakini bahwa bersekte (mazhab) itu harus, apapun mazhabnya. Jadi, sebenarnya kyai tersebut bersekte juga, namanya sekte “non-sektarian”.

Lantas, gimana dengan aku? Aku bikin sekte juga, deh. Namanya sekte cinta. Hohoho….

« Newer Posts - Older Posts »