Wangi Melati

Aku lihat wangi melati
memeluk titik-titik hujan
sebelum jatuh ke tanah dan pergi ke matahari,
nanti; dia memberi senyum

pada angin yang meminta cerita
selagi menunggu senja,
yang lelah setelah membawa hujan siang hari; dia menari, bercerita

tentang langit
yang menemaninya dengan cinta kerlap-kerlip gemintang malam tadi,
setelah sekian lama.

Cantik,
aku selalu menemanimu
meski aku di sini. Menemanimu.

Rancabungur, 25 April 2006
jackstar hs

Gombal!

Dan ini bisa disebut malam hari;
serangga-serangga tanah sudah bersautan,
udara dingin adalah selimutnya,
rembulan tampakan senyum nya,
gemintang telah tunjukan mata genitnya.
Ya, karena itu semua
ini disebut malam hari.
Kenapa memang?

Kemudian,
ada laki-laki dan puisinya
untuk perempuan istimewanya,
meski tak ada petikan gitar klasik.

Aku bukanlah angin
jika gagal membawa dirimu terbang
tinggi,
ke atas menara puri jingga.

Yakinlah,
nyawaku adalah nafasmu
istanaku adalah hatimu.

Lalu,
apa yang kau ragukan lagi, Putri?

Dengarlah bisikku
peluk erat janjiku dengan percayamu.

Pejamkan sekejap kedua matamu
dan gemintang telah ada di pelukmu.

“Idih. Gombal.”

Putri,
aku bukanlah gulita,
jika tak mampu padamkan seluruh gemintang.

“Aaah, gombal”!

Putri…

“Namaku bukan ‘Putri’!” Plok!

Bandung, Siang hari, 16 April 03
Harry Septanto

Berpapasan

Sekilat saja kami berpapasan; saling menatap. (Tentu aku
yang lebih menatap. Aaku kan lelaki!)

“Cantik!”
“Tetapi, tidak begitu cantik. Tetapi,
dia sungguh menarik!”
“Tetapi,
apa yang buat dia begitu menarik, ya?”

Sekali lagi kucari wajah itu.
Namun, mobil ini
sudah membawaku terlalu jauh dan
bayangnya di kepalaku sudah terlalu kabur.

Siang, Bandung, 24 November 2003
Jackstar HS