Puisi: Kuterka

Nah, sekarang ceritanya ketika aku udah kerja. Kerja di Jakarta, tahun 2003-an, lah. Begini ceritanya. Mmm…. Ya, begini. Jadi, dulu itu aku kerja di Jakarta (“Terus??,” AK). Terus, aku punya temen. Nah…. Ya udah (“Busyet! Parah banget ini orang!,” AK).

Hehehe… Gini, loh. Ceritanya dulu aku sempet dimintain temen untuk nulis puisi buat cewek yang dia suka. Dia hanya ingin mengungkapkan kekagumannya sama cewek itu. Tapi, aku kurang setuju kalo tema puisinya soal itu (“Loh, kok, gitu?! Dasar!” AK). Ini karana temenku ini rupanya udah suka sama itu cewek dari dulu, tapi gak berani, gak pede, gak semacem gitu, deh. Aku bilang, “Yo opo arek iki! Ngene ae wis nyerah!” (“Woooi…. Bahasanya tuh! Indonesia, dooong,” AK).

Kembali kepada persoalan diminta bikinin puisi itu, malam harinya lantas aku merenung, mencoba merasakan apa yang dia rasakan dalam hatinya (“Hoeeeks!” AK). Sambil cuci baju aku merenung dengan serius. Sangat serius. Sungguh serius. Ben… (“Sudah, sudah!” AK). Alih-alih membuat puisi dengan tema yang diharapkan temenku itu, aku malah mencoba menuliskan perasaannya.

Besoknya aku tunjukan puisiku itu ke dia. “Apaan ini?!” komentarnya. Hohoho…. Inilah puisi banyolan itu:

kuterka

kasih ini setia ada ikuti sukma
tak peduli masa.

juga, ku tinggal semua catatan tentang isyarat
yang pagi-pagi kuterka.

Jackstar Harry
2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s