Dibombardir Ciuman

Tiba-tiba aku ingat obrolan kami, aku dan bule yang sedang TA (Tugas Akhir) di Lapan, beberapa tahun lalu. Begini ceritanya (“Halllah halllaaaaah!” AK).

Awalnya kami nonton tipi saja, ada film action gitu, deh. Lantas, aku memulai pembicaraan, “Di Indonesia kita tidak akan banyak menemukan tayangan adegan ciuman. Ada, sih. Tapi, di-cut.” Rupanya dia heran sambil rada merengut, “Ciuman gitu aja gak boleh tayang??”

“Ciuman kan bukan kekerasan. Itu bagian dari cinta,” lanjutnya. Hohoho…. “Ini aneh. Adegan tembak-menembak, pengeboman dan duel yang dapat mengundang aksi kekerasan malah tidak disensor,” katanya lagi. Ya, pada saat itu masih hangat-hangatnya kasus Bom Bali, terorisme dan lain-lain. “Lantas, apa alasan ciuman disensor?” baru, deh, dia tanya. Aku bilang apa, ya, waktu itu. Hohoho….

Oiya, aku bilang kurang lebih gini, “Menurut saya karena alasan agama dan adat di Indonesia. Apa lagi, ya?” (“Nah, lho!” AK). Aku bilang begini juga, “Secara tidak langsung, ciuman juga dapat berdampak pada kekerasan. Perkosaan, misalnya.” Eh, rupanya dia masih heran juga, “Tapi, itu kan cuma ciuman. Ekspresi cinta.” Lha, benten Prancis sareng Nusantara, kang (“Serius Lo bilang kalimat yang terakhir ini ke dia??” AK). Kalimat terakhir tadi, sih, gak dibilangin ke dia, tapi cuma pingin aja nulis komentar itu di sini (“Wooo….” AK). Hohoho….

Cerita di atas itu, cerita beberapa tahun yang lalu. Lantas, bagaimana keadaan acara-acara tipi sekarang? Wow! Para pemirsa dibombardir (adegan) ciuman! (“Uhuuuy!” AK). Jadi tambah repot ngurus anak, nih! (“Kayak udah kawin ajah!” AK). Hohoho….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s