Menulis Puisi Aneh

Heran. Iya, beneran heran saya. Kok, sekarang jadi jarang bikin puisi. Aku pernah tanyakan keherananku ini pada pada kakakku yang Psikolog itu. “Kamu udah mulai membumi, udah gak aneh lagi, Har. Emang keliatan, kok, sekarang.”  Kata kakaku.

Apa iya, ya? Perasaan aku tetep aneh, kok. Oya, mungkin kadar keanehanku yang sudah berkurang. Dia bilang aku udah gak aneh lagi mungkin untuk memberi semangat moral (atau mental, ya?) supaya aku benar-benar tidak aneh. Oleh karena itu pula dia bilang aku sudah membumi.

Tadi itu hipotesa pertama. Nah, yang kedua sekarang: mungkin aku dibilang membumi dan tidak aneh lagi karena sekarang kadar keanehanku sama dengan kadar keanehan dia. Hohoho…. Bisa jadi, lho! Kalau dari liat film-film, baca-baca buku and dengar-dengar radio, Psikolog itu banyak yang aneh. Nah, ya, tadi itu, mungkin karena dulu kadar keanehanku berbeda dengan dia maka aku dibilang aneh. Jadi, karena sekarang aku sudah memiliki kadar keanehan yang samadengan kadar keanehan kakakku yang Psikolog itu maka aku dikatakan membumi, tidak aneh lagi.

Ngomong-ngomong, “membumi” itu apa sih? Aneh.

One thought on “Menulis Puisi Aneh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s