Pengalaman Dulu, di Jakarta

Ini ceritaku dulu, baru-baru lulus, waktu masih kerja di Jakarta (“Eng ing eeeeng, ” kata AK).

-oOo-

Minggu siang, aku kembali ke Ibukota. Ketika Parahyangan yang kutumpangi mulai melaju, sadarlah aku beberapa jam di depan akan bersanggama lagi dengan udara super polusi Ibukota. Hmm…nampaknya kata “bersanggama” bukan kata yang tepat untuk kalimat itu, meski kata itu saya gunakan untuk menunjukkan suatu bentuk kedekatan yang sangat. Bersanggama; sebuah aktivitas yang dilakukan terkadang tanpa rasa suka, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan satu pihak saja, hanya untuk membahagiakan satu pihak atau hanya untuk mempertahankan kebersamaan atau hanya untuk mempertahankan status atau lainnya atau untuk semuanya itu!

Nah! Gimana kalau saya gunakan kata “diperkosa”: …akan diperkosa lagi oleh udara super polusi Ibukota… Bukankah pihak yang diperkosa tidak selalu menderita, tidak selalu menjadi trauma? Lalu, bisa muncul rasa “ingin lagi” sebagai kesan dari pengalaman itu?! “…aku lebih suka kembali ke masa lalu, meski hak pilihku diperkosa…tidak seperti sekarang yang chaos…” Naudzubillah.

Continue reading

Serba Terang

Saya buka-buka lagi beberapa email yang telah lalu, tapi aku simpen. Isi email ini berkaitan dengan kata-kata Ketua Sekte Cinta itu lho (“Ya ya ya,” kata AK). Maksudnya, aku menemukan kalimat yang inti pesannya sama dengan yang pernah diposting di blog ini, namun dengan kalimat yang agak berbeda. Begini bunyinya:

Cinta adalah anugerah Suci dari Yang Maha Suci. Oleh
karena itu, sudah semestinya kita selalu mendekati
setiap hal yang berkaitan dengan Cinta melalui
cara-cara yang Suci.

Together in Love

Together in Love

Selain itu, rupanya “cara-cara yang suci” yang aku pernah tuliskan via email dulu itu berbeda juga. Begini versi yang dulu:

Continue reading