Pengalaman Dulu, di Jakarta

Ini ceritaku dulu, baru-baru lulus, waktu masih kerja di Jakarta (“Eng ing eeeeng, ” kata AK).

-oOo-

Minggu siang, aku kembali ke Ibukota. Ketika Parahyangan yang kutumpangi mulai melaju, sadarlah aku beberapa jam di depan akan bersanggama lagi dengan udara super polusi Ibukota. Hmm…nampaknya kata “bersanggama” bukan kata yang tepat untuk kalimat itu, meski kata itu saya gunakan untuk menunjukkan suatu bentuk kedekatan yang sangat. Bersanggama; sebuah aktivitas yang dilakukan terkadang tanpa rasa suka, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan satu pihak saja, hanya untuk membahagiakan satu pihak atau hanya untuk mempertahankan kebersamaan atau hanya untuk mempertahankan status atau lainnya atau untuk semuanya itu!

Nah! Gimana kalau saya gunakan kata “diperkosa”: …akan diperkosa lagi oleh udara super polusi Ibukota… Bukankah pihak yang diperkosa tidak selalu menderita, tidak selalu menjadi trauma? Lalu, bisa muncul rasa “ingin lagi” sebagai kesan dari pengalaman itu?! “…aku lebih suka kembali ke masa lalu, meski hak pilihku diperkosa…tidak seperti sekarang yang chaos…” Naudzubillah.


“…beberapa jam di depan akan berteman lagi dengan…” Aku pikir “berteman” saja, deh! Pada seorang teman tidak melulu baikan, kan? Ada kalanya kesal, lalu marah. Tapi satu saja hal tentang seorang teman: rasanya selalu saja dekat.

Keretaku berangkat dari stasiun Bandung tepat jam tiga lebih lima menit, sesuai dengan waktu yang ditunjukkan oleh jam tangan milik penumpang di belakangku. Entah waktu yang ditunjukan oleh jam tanganku, tapi rasanya tidak jam segitu.

“Betulkan kata Ayah, kereta berangkat jam tiga lebih lima menit,” kudengar suara dari belakang ketika udara sejuk yang mulai kutinggalkan masih sedia bercengkrama dengan rambutku dan tubuhku yang sudah tidak akrab lagi akibat adaptasiku dengan panasnya udara Ibukota. Di belakangku, duduk seorang lelaki seumuran pembimbing tugas akhirku dulu dan seorang anak kecil yang masih balita.

Anak kecil itu benar anak yang hebat, dari mulutnya deras keluar pertanyaan, dia haus pengetahuan. Sementara lelaki di sampingnya selalu dapat memberikan penawar atas rasa haus anak kecil itu. Sungguh disana tidak saja hanya haus-penawar, pertanyaan-jawaban yang hadir. Di sana ada selimut keriangan. Luar biasa! Dia lelaki itu sungguh seorang Ayah dan anak kecil itu benar seorang Putri.

Laju kereta api yang konstan, angin sejuk yang mulai kutinggalkan; mereka menemani rasa kantukku.

2 thoughts on “Pengalaman Dulu, di Jakarta

  1. Jakarta makin macet, tapi juga banyak dirindukan oleh orang pencari kerja.

    Justru di Jakarta lah sebetulnya banyak kesempatan untuk mengembangkan karir, dan banyak tempat mengasyikkan…namun kita memang harus berdamai, mencoba mencintai…dan akhirnya malah jatuh cinta beneran, kayak kami sekeluarga, yang akhirnya tetap berusaha agar bisa memiliki sebuah sarang walaupun mungil di kota jakarta tercinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s