Tanggung Jawab

Tulisanku di bawah ini, seperti tulisan sebelumnya, adalah tulisan lama, awal 2004. Oiya, nama pelaku tidak saya sebutkan di sini atau disamarkan dengan tujuan menghindari ketidaknyamanan hamba dan Anda sekalian, tentunya😉

-oOo-

Koran lama tergeletak di sudut kamar: KOMPAS Minggu, 7 Desember 2003; ada lembar tersisa: halaman 23; Kontak-sebuah rubrik jodoh-menarik perhatian. Nah, lho! “Gue desperate?! Ape loe kate!” Meniru gaya Miss LA, sekretaris dr. FT, bicara. Sangkal semua yang bukan-bukan.

Tanggung Jawab

Tanggung Jawab

Di liburan kemarin banyak hal datang. Pertama; menemani sebentar saja gerak langkah jarum jam di dinding kampus sambil bincang-bincang dengan teman menyenggol soal jodoh. Kedua; via telefon, seorang teman meledek; kecil peluang dapat pacar kalau kebiasaan menyantap tidur berlebih tak diubah, katanya. Ketiga; tiba-tiba teman yang sedang bahagia menyanyakan kapan kawin. Perihal teman yang sedang bahagia ini: …dia sudah bersama lelaki…bukan dengan aku, tapi aku bahagia, katanya. Kuragukan bahagianya. Nah, lho!

Lalu apa relevansi ragam peristiwa di liburan tadi hingga akhirnya Kontak menarik perhatian? Begini. Mulanya: Sari peristiwa tersangkut di dada, sedikit banyak jadi pikiran jua. Ranting pikiran tumbuh kemana saja, buahnya jatuh di rubrik jodoh, Kontak. Nah, lho!

Kontak. Peserta: berjumlah empat belas orang; terdiri dari laki-laki dan perempuan. Secara keseluruhan, empat besar kriteria-sifat jodoh yang dikehendaki para peserta: “Setia” disebut oleh tiga belas peserta; “jujur” disebut oleh delapan peserta; “sabar” disebut oleh tujuh peserta; dan “tanggung jawab” disebut oleh enam peserta. Mengapa, kok, hanya enam peserta yang mencantumkan kriteria “tanggung jawab” sehingga dia cukup duduk di tempat ke-empat teratas? Nah, lho!

Sebutlah hubungan antara lelaki dan perempuan yang disebut pacaran hadir disini dengan alasan cinta. Lalu, demi menjunjung tinggi kesucian cinta itu-soal kesucian satu ini, agama pun tak kurang nya peduli-disepakatilah apa yang disebut komitmen: janji ini itu. (Perihal “demi menjunjung tinggi kesucian cinta”, khalayak biasa menyebutnya “demi cinta” saja). Komitmen? Contoh: hadir batasan berelasi antara mereka sendiri, dan antara mereka dan yang di sekeliling mereka. Tujuannya? Banyak, mulai perihal nilai moral agama hingga saling menjaga perasaan. Misal: supaya pacarnya tidak punya pacar lagi, lalu meninggalkannya begitu saja. Kabarnya ini disebut “setia”. Nah, lho!

“Setia” itu tidak punya kaki. Eksistensinya selalu ditopang oleh “tanggung jawab”. “Setia” itu muncul karena “tanggung jawab” mereka atas komitmen tadi. Dan, bila ditelusuri lebih lanjut, ternyata komitmen itu menampakkan wajahnya setelah diawali oleh “tanggung jawab” dalam menjunjung tinggi kesucian cinta: demi cinta. “Tanggung jawab” adalah inti-akar yang selalu menyuplai nutrisi pada, tidak hanya “setia”, tapi juga “jujur”, “sabar” dan lainnya. “Tanggung jawab” ini berupa nafas yang terus memacu jantung bunga cinta. Tapi, tentu rupa-rupa peristiwa terjadi ketika memperjuangkan “tanggung jawab”. “Tanggung jawab” bisa hadir sebagai harta pusaka yang duduk di bahu kita: beban yang beratm tetapi harus kita selamatkan. Saat lain, “tanggung jawab” menjelma bogem mentah pas di hidung: sakit bukan main, tetapi itulah resiko perjuangan.

Barangkali, kisah Onde-ondeman (ingat kisah sahabat UP dan penjual onde-onde?) dapat dimunculkan sebagai sebuah ilustrasi. Kecintaan yang begitu besar kepada keluarganya menumbuhkan “tanggung jawab-demi-cinta” untuk menafkahi keluarganya. Lalu, karena “tanggung jawab”,tumbuh “setia” pada profesinya, yang bukan tak mungkin dalam menjalaninya ancaman palak dari para preman tengil selalu menanti. Belum lagi ancaman cuaca yang tak bersahabat: deras hujan, panas terik dan dingin gelap malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s