Doa untuk Kebaikan Semua Orang

Terang Akan DatangHai, Sobat SekteCinta (“Gdubraaag!!” kata AK). Udah lama juga saya tidak posting di blog ini. Maklum, dalam persiapan menjelang kehidupan bareng Jeng Ayu (“Ehm… ehm..,” AK).

Begini. Beberapa waktu yang lalu saya banyak nonton sinetron. Seperti yang sudah-sudah (“Sudah apa?” tanya AK), maksudnya, yang sudah saya tonton akhir ceritanya, diceritakan bahwa tokoh yang awalnya bersusah-susah, menderita, tersiksa maka akan senang dan bahagia pada akhirnya. Lantas, tokoh yang awalnya jahat, enak hidupnya? Pada akhirnya mereka akan hidup sengasara, menderita bahkan meninggal dengan tragis.

Menurut saya, jalan cerita semacam ini bukan jalan cerita yang sehat. Karena, apa coba nilai moral yang akan membuat kita termotivasi setelah menonton sinetron semacam ini? Sifat “sabar untuk menjalani kehidupan yang bersusah-susah dahulu lalu bersenang-senang kemudian” ? Tentu tidak juga, karena di dalam sinetron-sinetron macam itu biasanya sang tokoh, yang pada akhirnya senang setelah menderita sekian lama, menjalani peralihan itu tanpa suatu usaha yang logis, tapi karena keajaiban. Baiklah bahwa kita memang diajarkan untuk meyakini adanya mukjizat. Tapi, kita diajarkan lebih awal untuk melakukan usaha yang logis, yaitu ikhtiar.

 Lantas, apa implikasi dari motivasi atas cerita tentang “kebahagiaan yang akhirnya diperoleh tanpa usaha yang  logis” ini? Saya khawatirkan akan timbul “doa” di dalam hati orang yang saat ini sedang merasa menderita atau terzalimi, “Saya harus sabar mendapatkan perlakuan seperti ini dari dia. Tapi, lihat saja nanti apa yang akan terjadi pada dia!” Mengerikan, bukan? (“Iiih… ngeri,” kata AK ngeri).

Bayangkan jika seluruh penduduk dunia ini hidup dalam kedamaian, kata John Lennon. (“Lalu, kata Jackstar Harry, gimana?” tanya AK) Tentu tidak semestinya kita mendoakan pihak yang menzalimi kita itu hancur lebur sementara kita dan orang-orang di dekat kita sendiri yang bahagia, persis seperti akhir cerita-cerita sinetron itu. Sudah tentu, jika kita berdoa semacam ini, apa yang dibayangkan John Lennon itu tidak bakal terwujud. (“Terus, kumaha atuh?” tanya AK).

Bayangkan jika kita juga selalu berdoa agar kita selalu diberikan kebaikan dan selalu ditunjukan jalan yang baik oleh Tuhan. Bersamaan dengan itu, kita juga berdoa agar para orang-orang zalim selalu diberikan kebaikan dan selalu ditunjukan jalan yang baik oleh Tuhan. Mudah-mudahan tercapai cita-cita John Lennon itu, yang tentu cita-cita kita juga. Buat saya, inilah yang disebut rahmatan lil ‘alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s