Nyarios Sunda

Begitu sampai gerbang tempat parkir ITB sebelah selatan, saya bayar parkir terlebih dahulu (“Harus bin kudu ieu mah,” komen AK). Rupanya akang-akang petugas parkir sedang  nonton tv soal baku tembak aparat dengan teroris di Solo. Link ini bukan acara yang tadi mereka tonton, sih, tapi sekedar memberi gambaran acara yang mereka tonton (“Ya, ya, ya,” komen AK). Eh, Ahli Komentar, kamu kok komennya kayak iklan Keluarga Berencana jaman dulu, sih? (“Weee… Enak aja! Aku mah ikutan Gigi dong!,” balas AK).

Ya, sudah, kita kembali lagi kepada topik utama tulisan ini. Biasa lah, dengan SKSD, saya tanya mereka, “Acara naon ieu teh? Ooo… Densus tetembakan jeung teroris di Solo tea-nya?” tanya saya. (AK tampaknya ingin menerjemahkan, “Acara apa nih? Ooo… Densus baku tembak dengan teroris di Solo itu, ya?”). Setelah si Akang satu itu bilang “iya” dalam bahasa sunda, saya langsung parkirkan motor saya. Lalu, memasang kunci ganda dan jalan ke Lab.

Dalam perjalanan ke Lab, tiba-tiba timbul pikiran berkaitan dengan tanya-jawab dengan akang parkir tadi: kok, bahasa Sunda saya tadi terasa aksen Jawa yang agak medok, ya? Tiba-tiba saja saya ingat bahwa isteri saya itu orang Jawa Timur yang aksen Jawa-nya medok edun! Mungkin saya akhirnya tertular juga karena selalu tidur bersama dia semenjak menikah (“Ngawur!” kata AK).

One thought on “Nyarios Sunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s