Puisi Hari Ibu: Lahir

Maaf, Ibu, belum bisa mempersembahkan puisi baru (“Aaaah, payyyaah! :p” kata AK). Selamat Hari Ibu, Ibu.

-oOo-

Lahir

 

Awan sanggup tulus
ketika rinai hujan kepunyaannya
dilahirkan untuk bumi.

Bumi sanggup haru
ketika bunga kepunyaannya
dilahirkan untuk pelengkap warna sayap kupu-kupu.

Kupu-kupu sanggup bertaruh nyawa
ketika suasana kepunyaannya
dilahirkan untuk rasa suka anak kecil yang
berlari-lari di taman itu.

Dan kau semestinya tahu bahwa anak kecil itu
hanya sanggup dilahirkan dengan tulus, haru dan nyawa
kepunyaan ibu.

Rancabungur, 23 Desember 2006

Advertisements

Tunjukkan yang Baik Saja

Berikut ini adalah tulisan lama saya di blog Friendster, ketika masih suka mencermati sinetron. (“Kalau sekarang suka mencermati apa?” tanya AK)

—==—

Sekarang ini, sebagian besar sinetron menampilkan dua hal berlawan yang ekstrim: baik-jahat, marah-menangis dan sebagainya. Kabarnya mereka (terutama sinetron- sinetron yang menggunakan simbol-simbol keislaman) memiliki tujuan mulia: menyampaikan nilai-nilai moral.

Tapi, apa yang terjadi? Continue reading “Tunjukkan yang Baik Saja”