Tunjukkan yang Baik Saja

Berikut ini adalah tulisan lama saya di blog Friendster, ketika masih suka mencermati sinetron. (“Kalau sekarang suka mencermati apa?” tanya AK)

—==—

Sekarang ini, sebagian besar sinetron menampilkan dua hal berlawan yang ekstrim: baik-jahat, marah-menangis dan sebagainya. Kabarnya mereka (terutama sinetron- sinetron yang menggunakan simbol-simbol keislaman) memiliki tujuan mulia: menyampaikan nilai-nilai moral.

Tapi, apa yang terjadi? Sinetron-sinetron itu menampilkan orang yang berkerudung,  tapi menampilkan juga orang yang berbusana “terbuka”; menampilkan orang yang bersifat baik, tapi menampilkan juga orang yang bersifat buruk luar biasa; menampilkan orang yang bersembahyang (solat), tapi menampilkan pula orang yang berzina. Sinetron-sinetron itu menampilkan dua hal yang ekstrim. Kemudian, di sana ditampilkan bahwa yang “baik” akan menang dan yang “jahat” akan kalah secara ekstrim.

Sinetron-sinetron dengan pola cerita seperti di atas diputar setiap hari, terus- menerus; dan ditonton pula setiap hari, terus-menerus. Apa benar dengan pola cerita seperti ini, misi “menyampaikan nilai moral” itu akan tercapai? Akibat ditonton terus-menerus, maka yang kemudian hadir di dalam benak penonton adalah bahwa setiap hal yang disajikan oleh sinetron-sinetron tersebut akan dianggap hal “biasa”. Parahnya, jika yang dianggap “biasa” itu adalah sisi “jahat”-nya. Ini sangat mungkin terjadi, sehingga nilai moral tersebut gagal tersampaikan.

Lalu, bagaimana? Di dalam Islam, kita diajarkan bahwa dengan menunjukan yang haq (benar, baik), maka yang bathil (salah, buruk) akan sirna dengan sendirinya. Nilai moral yang bertujuan untuk membuat sirna yang “jahat” tersebut akan tersampaikan secara efektif dan fokus apabila kita dapat menyajikan sebuah cerita yang di dalamnya memuat unsur-unsur kebaikan (haq) saja. Dengan begini, “nilai moral” tersebut akan sampai pada yang dituju: pelaku-bathil, sehingga dia bisa berangsur-angsur berubah menjadi pelaku-haq.

Saya pikir, sudah saatnya sekarang kita coba membuat karya cerita dengan pola cerita yang menampilkan hanya sisi kebaikan dari kehidupan ini melalui penyajian perilaku, cara berbusana, cara berbicara, cara mengendalikan emosi, suasana, tempat terjadinya suatu peristiwa (setting) dan lain-lain.

Tidak perlu lantas menjadi ekstrim sehingga terlihat naif. Yang seperti ini pernah saya lihat di sebuah sinetron dimana ditampilkan seorang “soleh” yang selalu membacakan hadist-hadist Nabi Saw saat melawan”musuhnya” (peran antagonis).

Sekarang, apakah benar dengan pola cerita begini sebuah cerita/ sinetron menjadi tidak menarik? Ataukah kita hanya belum bisa saja membuatnya?

Rancabungur, 27 Januari 2007
jackstar hs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s