Aku Cinta Indonesia

Setelah sekian lama saya dengar Pustekkom, baru tadi saya membuka websitenya. Eh, rupanya di sana ada link yang berisi serial “Aku Cinta Indonesia (ACI)” yang pernah ditayangkan di TVRI jaman dulu! Cobalah tengok ACI SMP dan ACI SMA. Wuaaah, benar-benar nostalgia.
ACI
Eh, tapi sebetulnya, saat suka nonton dulu, rasanya ini film dewasa. Gak tahu persis kenapa saya berkesan begitu. (“Ya, iyalah, dulu kan kamu masih SD! Sementara setting film ini kan problematika anak-anak SMP dan SMA,” jelas AK). Mungkin penyebabnya karena saat itu saya memang masih SD.

Oiya, ada kata-kata yang saya suka, yang diucapkan oleh ibunya Surya, menjelang akhir “Menggapai Cita-cita” dalam ACI SMP. Begini katanya, “… Sikapmu itu yang bisa menentukan berhasil dan tidaknya cita-citamu.”

Berjalan Kaki ke Kampus

Setelah sekian lama, saya ke kampus lagi dengan berjalan kaki (“Mungkin sekitar 2-3 bulan, ya.” Kata AK). Berjalan kaki adalah alternatif ke kampus yang paling saya suka, dibanding bawa motor, naik angkot atau bawa mobil. (“Dibanding dengan bersepeda, Bike to Work gitu?” tanya AK). Kebetulan tidak punya sepeda, jadi tidak saya bandingkan dengan bersepeda.

shoes to walk

Jalur dari rumah ke kampus yang biasa saya lalui yaitu: Sadang Serang (terminal/ pasar) – Pasirkaliki – menelusuri pinggir sungai (waktu kecil saya biasa mengebutnya daerah Lebak) – Haurpancuh – Jl. Dipati Ukur –  Jl. Teuku Umar – Jl. Ir. H. Djuanda – Jl. Ganeca (sampai, deh!). (“Sekitar berapa kilometer tuh?” tanya AK). Saya tidak tahu pasti berapa kilometer jarak tempuhnya. Yah, mungkin 2-3 kilometer.

(“Eh, apa gak ada rute yang lain?” tanya AK). Tentu jalur di atas bukan satu-satunya jalur yang pernah saya lalui, ada 3 jalur lagi yang pernah saya lalui. Nanti lain kali pingin cerita juga. Sekarang mau menampilkan oleh-oleh foto saja dulu–oya, memfoto dengan hape ini juga salah satu keasyikan yang saya bisa peroleh dengan berjalan kaki ke kampus, di antara berbagai keasyikan lainnya tentunya. (“Apa saja yang asyik-asyiknya tuh??” AK penasaran). Saya ceritakan juga lain waktu, ah.

Bisa disebut rerumputan kah?

Senyum Rp20.000

Kejadiannya sudah sekitar dua minggu yang lalu. Hampir tengah malam, hujan mulai reda di atas lapangan parkir. Di dalam gelap, ku temukan senyuman yang sangat ku kenal itu(“Siapa? Siapa?,” AK penasaran). Ku temukan senyum Oto Iskandar Di Nata dalam pecahan Rp20.000 di tengah lapangan parkir, di tengah hujan yang mulai reda, di waktu hampir tengah malam.

(“Lantas kamu bawa duit itu?”, tanya AK) Aku ambil, aku dokumentasikan dan aku bawa senyum Rp20.000 itu.