Gombal!

Dan ini bisa disebut malam hari;
serangga-serangga tanah sudah bersautan,
udara dingin adalah selimutnya,
rembulan tampakan senyum nya,
gemintang telah tunjukan mata genitnya.
Ya, karena itu semua
ini disebut malam hari.
Kenapa memang?

Kemudian,
ada laki-laki dan puisinya
untuk perempuan istimewanya,
meski tak ada petikan gitar klasik.

Aku bukanlah angin
jika gagal membawa dirimu terbang
tinggi,
ke atas menara puri jingga.

Yakinlah,
nyawaku adalah nafasmu
istanaku adalah hatimu.

Lalu,
apa yang kau ragukan lagi, Putri?

Dengarlah bisikku
peluk erat janjiku dengan percayamu.

Pejamkan sekejap kedua matamu
dan gemintang telah ada di pelukmu.

“Idih. Gombal.”

Putri,
aku bukanlah gulita,
jika tak mampu padamkan seluruh gemintang.

“Aaah, gombal”!

Putri…

“Namaku bukan ‘Putri’!” Plok!

Bandung, Siang hari, 16 April 03
Harry Septanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s