Menulis Puisi Aneh

Heran. Iya, beneran heran saya. Kok, sekarang jadi jarang bikin puisi. Aku pernah tanyakan keherananku ini pada pada kakakku yang Psikolog itu. “Kamu udah mulai membumi, udah gak aneh lagi, Har. Emang keliatan, kok, sekarang.”  Kata kakaku.

Apa iya, ya? Perasaan aku tetep aneh, kok. Oya, mungkin kadar keanehanku yang sudah berkurang. Dia bilang aku udah gak aneh lagi mungkin untuk memberi semangat moral (atau mental, ya?) supaya aku benar-benar tidak aneh. Oleh karena itu pula dia bilang aku sudah membumi.

Tadi itu hipotesa pertama. Nah, yang kedua sekarang: mungkin aku dibilang membumi dan tidak aneh lagi karena sekarang kadar keanehanku sama dengan kadar keanehan dia. Hohoho…. Bisa jadi, lho! Kalau dari liat film-film, baca-baca buku and dengar-dengar radio, Psikolog itu banyak yang aneh. Nah, ya, tadi itu, mungkin karena dulu kadar keanehanku berbeda dengan dia maka aku dibilang aneh. Jadi, karena sekarang aku sudah memiliki kadar keanehan yang samadengan kadar keanehan kakakku yang Psikolog itu maka aku dikatakan membumi, tidak aneh lagi.

Ngomong-ngomong, “membumi” itu apa sih? Aneh.

Advertisements

Pesan Bung Karno

Barusan saja saya mengomentari sebuah posting di suatu milis. Tampaknya dia, si pengirim, terkesan sekali dengan ucapan/ pesan Bung Karno berikut:

“Jika seorang anak muda usia 21-22 tahun tidak punya cita-cita untuk mengubah bangsanya, gunduli saja kepalanya!”

Bung Karno
Bung Karno

Ini kalimat yang sangat dalam maknanya, bukan karena diucapkan oleh seorang Bung Karno, tapi memang begitu menurut saya. Nah, tampaknya yang terpesona bukan saja si pengirim, tapi saya juga terpesona sekarang. Oiya, sekali lagi, “terPESOna” bukan “terSEPOna”. Yang terakhir adalah jokes jadul. Hohoho… hops!

Oiya, saya belum menjelaskan apa tujuan dia mengirim potongan pesan Bung Karno itu. Dia bertujuan untuk . . . . . untuk . . . . . memperoler tanggapan dari para perserta milis lainnya (“Ya, iyyyalaaah!” katanya si AK). Maksudnya, dia berharap para peserta milis memberikan petunjuk (“‘Petunjuk’ ?! Istilah jadul, ya?” kata AK), ya, petunjuk atau komentar terhadap pesan Bung Karno itu. Dan ini komentar saya (setelah diedit dan disensor sana-sini):

Pendekar WS,
mari kita awali dulu dengan melatih jurus memahami kumpulan kata dari pesan Bung Karno tersebut. Njengan sekarang harus memulai memantapkan terlebih dahulu makna atas, setidaknya, tiga kata/ kumpulan-kata berikut:

– cita-cita
– bangsa
– gunduli saja kepalanya

Hal ini penting karena apapun yang Pendekar WS pahami dari pesan Bung Karno itu akan berdampak langsung pada jalan kehidupan yang kelak Pendekar WS jalani. Jangan terburu-buru menganggap makna pesan Bung Karno itu adalah makna tunggal, yaitu makna yang sekarang Pendekar WS pahami.

Mari kita bahas satu per satu: Continue reading “Pesan Bung Karno”

Nastar

Nastar. Biasaya aku makan nastar kalo Lebaran aja. Nastar bikinan ibu paling nikmat! Tapi, biasanya kami dapat kiriman kue juga, dan biasanya ada nastarnya: nikmat juga! Hohoho….

(Di tempat ini mestinya ada foto nastar nikmat itu. Kan jadi tampak menarik. Hohoho….)

Nah, hari ini rupanya Kordas NP gak tahan untuk buka kue nastar yang dia beli beberapa hari yang lalu, yang, alhamdulillah, selamat dari tikus dan semut. Hohoho…. Nah, seperti biasa, karena kami adalah tim yang kompak, damai, aman, nikmat dan sejahtera, jadi aku dan kawan-kawan ikut menikmati kue nastar yang barusan resmi dibuka bungkusnya oleh Kordas NP. Nyam-nyam… (“Aku mauuuuuuuu!” AK).